Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Berinvestasi pada Fintech Lending, Platform Pendanaan UMKM


Berinvestasi melalui platform fintech lending atau pendanaan berbasis teknologi tengah menjadi tren seiring dengan perkembangan pesat layanan ini. Selain rendah resiko, investasi ini tak lantas membebaskan kita dari resiko kerugian. Karena berhubungan dengan pinjaman, ada kemungkinan uang investasi yang dijadikan pendanaan tidak kembali atau pembayarannya mengalami kemacetan. Agar dapat terhindar hal-hal tersebut, berikut ini hal-hal yang perlu dipertimbangkan sebelum berinvestasi pada fintech lending.

1. Berinvestasi di Fintech Lending yang Terdaftar Di OJK
Pemerintah telah mengatur layanan pinjam meminjam uang melalui platform digital dalam Peraturan Bank Indonesia No. 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran, Peraturan BI No. 18/17/PBI/2016 tentang Uang Elektronik, dan Surat Edaran BI No. 18/22/DKSP perihal Penyelenggaraan Layanan Keuangan Digital.

Peraturan ini dibuat untuk memperjelas batasan-batasan dalam bertransaksi secara digital. Hal ini termasuk memilih fintech lending yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar terhindar dari penipuan. Salah satu fintech yang telah terdaftar pada OJK adalah PT Mekar Investama Sampoerna yang memiliki misi memberdayakan UMKM terutama yang dikelola oleh perempuan melalui pendanaan modal usaha.

2. Sesuaikan dengan Rencana Keuangan Pribadi
Berinvestasi pada platform fintech lending untuk membantu pendanaan UMKM, pendanaan pendidikan, dan pendanaan kesehatan masyarakat hendaknya tidak menggunakan dana darurat atau dana tabungan pribadi. Hal ini dikarenakan dana yang Anda investasikan pada layanan pinjaman berbasis teknologi ini tidak bisa Anda ambil kapan saja dan dimana saja seolah menyimpan uang di bank.

Anda bisa menabung terlebih dahulu selama jangka waktu yang Anda inginkan untuk bisa berinvestasi di platform ini atau Anda bisa memulai dengan dana mulai 100 ribu rupiah. Kemudian, cara lain dalam merencanakan keuangan investasi adalah menyadari tujuan utama Anda berinvestasi, misalnya untuk dana cadangan, untuk memperoleh untung dalam jangka waktu tertentu, dan sebagainya.

3. Melakukan Diversifikasi Pinjaman
Diversifikasi pinjaman adalah pemberian dana pinjaman oleh investor kepada beragam pihak dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Kebutuhan tersebut mulai dari modal UMKM, dana pendidikan, hingga dana kesehatan. Melalui metode diversifikasi ini, Anda dapat meminimalisir kemungkinan rugi dari kemacetan pembayaran para peminjam atau tidak membayar sama sekali.

Dengan melakukan diversifikasi, ketika hal buruk terjadi terhadap dana Anda yang dipinjamkan, Anda masih bisa memperoleh keuntungan dari pihak-pihak lain yang Anda danai. Anda juga bisa berinvestasi pada beberapa perusahaan fintech lending sekaligus.

4. Menganalisis Calon Peminjam
Rata-rata platform fintech lending mengharuskan para pemberi pinjaman menganalisis sendiri calon peminjam. Maka Anda harus secara hati-hati menganalisis calon peminjam dengan memperhatikan identitasnya, riwayat keuangan, latar belakang, riwayat usaha, analisa kredit sederhana, dan lain sebagainya. Tidak perlu terburu-buru dalam memutuskan, pelajari data peminjam dengan seksama sebelum akhirnya memberikan dana dapat menghindarkan Anda dari resiko penipuan atau pembayaran yang macet.

5. Perhitungkan Bunga
Meski bunga cicilan yang didapat para peminjam relatif lebih kecil dibandingkan dengan meminjam melalui bank, namun investasi pada layanan pinjaman dana berbasis teknologi ini memiliki bunga yang tinggi sehingga menguntungkan para pemberi dana. Meskipun patokan imbal hasil dasar sebesar 5.75% per tahun, Anda bisa juga menemukan perusahaan fintech lending yang memberikan penawaran bunga hingga 30% per tahun.

Di samping itu, untuk menghindari resiko terlambat bayar atau tidak bayar, sebaiknya Anda menetapkan bunga dengan kisaran 15%-20% per tahun.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Berinvestasi pada Fintech Lending, Platform Pendanaan UMKM"

Posting Komentar